Minggu, 22 September 2013

LEGENDA DAMARWULAN dalam beberapa versi

Terlepas dari serial drama yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta,DAMARWULAN merupakan legenda rakyat asli jawa timur,dalam kenyatanya memiliki beberapa versi, Dan berikut beberapa versi atau varian dari legenda Damar Wulan. Kisah Damar Wulan Versi 1 Damarwulan adalah anak seorang bekas patih Majapahit yakni Udara. Ia dilahirkan dan dibesarkan di desa Paluhamba di bawah asuhan ibu dan kakaknya Begawan Mustikamaya. Setelah dewasa ia mengabdi pada pamannya, Patih Logender sebagai tukang kuda. Dalam pengabdiannya itu meskipun masih kemenakannya sendiri, oleh Logender Damarwulan diperlakukan sebagai budak saja dengan segala penderitaan menerima azab dan penghinaan . Sikap laku seluruh keluarga Logender pun demikian pula, kecuali Anjasmara, anak perempuan Ki Patih, yang menaruh hati kepada Damarwulan. Kemudian Patih Logender terpaksa melepas Anjasmara untuk diperistri Damarwulan, meskipun hatinya tidak rela. Sementara kerajaan Majapahit dilanda pemberontakan Minakjingga, Adipati Blambangan, yang menyatakan diri sebagai raja berdaulat bergelar Prabu Urubisma. Tetapi maksud Minakjingga sebenarnya ingin memperistri Prabu Kenya Kencanawungu, Ratu yang berkuasa di Majapahit, sekaligus merebut tahta kerajaannya. Peperangan Majapahit – Blambangan tidak dapat dihindarkan. Ternyata Minakjingga terlalu sakti untuk dikalahkan. Balatentara Majapahit kocar-kacir, tiada terhitung lagi jumlah prajurit yang tewas, dan banyak pula panglima dan perwiranya gugur, termasuk Ranggalawe andalan Majapahit. Prabu Kenya sudah hampir berputus asa ketika tiba-tiba mendapat wangsit dari Dewa, bahwa yang mampu membasmi Menakjingga adalah Damarwulan. Maka Damarwulan pun diangkat menjadi panglima perang. Dan Minakjingga akhirnya dapat dibunuh. Setelah pemberontakan dipadamkan, masih terjadi lagi penghianatan terhadap Damarwulan oleh saudara sepupunya sendiri. Layangseta dan Layangkumitir, anak laki-laki Patih Logender. Tetapi penghianatan ini akhirnya pun dapat diatasi. Atas jasa-jasanya Damarwulan mendapat pahala naik tahta kerajaan Majapahit dan memperistri Prabu Kenya Kencanawungu. Kisah Damar Wulan Versi 2 Damar Wulan (sering juga ditulis Damarwulan) adalah seorang tokoh legenda cerita rakyat Jawa. Kisah Damar Wulan ini cukup populer di tengah masyarakat dan banyak terdapat versi lakon, sendratari ataupun cerita tertulis yang telah dibuat mengenainya. Umumnya, kisah-kisah tersebut adalah berdasarkan Serat Damarwulan, yang diperkirakan mulai ditulis pada masa akhir keruntuhan Majapahit. Diceritakan awalnya Damar Wulan mengabdi sebagai tukang rumput kepada Patih Loh Gender dari Majapahit. Karena kepandaiannya, Damar Wulan dapat menjadi abdi andalan Patih Loh Gender, dan Anjasmara putri sang patih terpikat dan jatuh cinta kepadanya. Damar Wulan kemudian mendapat tugas dari raja putri Majapahit, yaitu Ratu Kencana Wungu, untuk menyamar dengan tujuan membantu mengalahkan Menak Jinggo penguasa Blambangan yang bermaksud memberontak kepada Majapahit. Damar Wulan yang tampan dapat menarik perhatian selir-selir Menak Jinggo, yaitu Waeta dan Puyengan. Dengan bantuan mereka, Damar Wulan berhasil memperoleh senjata sakti gada Wesi Kuning milik Menak Jinggo. Menak Jinggo kemudian berhasil dikalahkan dan Damar Wulan menjadi pahlawan. Ia memboyong kedua selir tersebut, serta pada akhirnya juga mempersunting sang raja putri Majapahit. Dalam kesenian wayang Banyuwangi dan Janger, penggambaran Menak Jinggo berlawanan dengan penggambaran dalam Serat Damarwulan. Menak Jinggo digambarkan berwajah rupawan, disukai banyak wanita, arif bijaksana, dan pengayom rakyatnya. Menak Jinggo memberontak karena Kencana Wungu tidak memenuhi janji menjadikannya suami, setelah Menak Jinggo mampu menaklukkan pengacau Kebo Marcuet yang mengamuk di Majapahit. Meskipun akhirnya ia dikalahkan Damar Wulan, Menak Jinggo tetaplah dianggap terhormat. Kisah Damar Wulan Versi 3 Naskah ini berbentuk legendriya “drama tari istana Jawa” (KBRI, 1988: 494) yang disajikan dalam bentuk sinom, asmaradana, mijil, megatruh, pangkur, kinanthi dan durma. Naskah ini menceriterakan perjalanan hidup Damarwulan sampai ia berhasil menduduki tahta Kerajaan Majapahit dan memperisteri Ratu Kenya, pewaris tahta Kerajaan Majapahit. Kemudian naskah ini diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982. Dikisahkan bahwa Adpati Blambangan, Prabu Urubesma, atau yang lebih dikenal dengan Prabu Menakjingga memberontak terhadap kekuasaan Majapahit; didasari keinginannya memperisteri Ratu Majapahit. Sebenarnya Ratu Majapahit telah mengutus Adipati Tuban dan Adipati Kediri untuk menumpas pemberontakan itu, tetapi gagal, bahkan mereka berdua gugus di medan pertempuran. Persoalan Blambangan belum selesai, muncul pasukan dari Wandan Gupita yang hendak menyerang Majapahit. Selanjutnya Ratu Majapahit dalam mimpinya menerima petunjuk Dewata bahwa yang dapat mengalahkan Prabu Urubesma adalah seorang bernama Damarwulan. Setelah menemukan Damarwulan, Ratu Majapahit mengutus Damarwulan, Ratu Majapahit mengutus Damarwulan menumpas pemberontakan itu dengan diiringi oleh Raden Layangseta dan Raden Layangkumitir. Berkat pertolongan isteri Prabu Urubesma, yaitu Dewi Sasmitaningrum dan Dewi Suselawati, Damarwulan berhasil membunuh Prabu Urubesma. Di tengah perjalanan pulang menuju Majapahit, Damarwulan dibunuh oleh Raden Layangseta dan Raden Layang Kumitir. Setelah berhasil membunuh Damarwulan dan merampas peti yang berisikan kepala Prabu Urubesma, kedua orang itu pulang ke Majapahit dan mengaku bahwa merekalah yang berhasil membunuh PrabuUrubesma. Prabu Kenya tidak begitu saja mempercayai keterangan kedua orang itu karena tidak sesuai dengan wangsit yang diterimanya. Ternyata memang benar bahwa Damarwulan masih hidup sehingga untuk membuktikan kebenaran ceritera itu. Damarwulan berperang tanding melawan Raden Layangsetadan Raden Layang Kumitir. Damarwulan berhasil mengalahkan kedua orang itu sehingga ialah yang berhak memperisteri Ratu Majapahit dan bertahta sebagai Raja Majapahit. Dapat disimpulkan bahwa ceritera ini yang hidup pada masa akhir kejayaan Majapahit masih diwarnai pengaruh agama Hindu. Hal ini terlihat pada waktu Ratu Majapahit menerima wangsit dari Dewata untuk menemukan seorang yang bernama Damarwulan. Jeng Dewa Ji kula boten dugi, mring wangsit Hyang Manon, Damarwulan Kang saged nyirnakke, mring pun Besma Wusana blenjadi, Damarwulan lalis, mengsih Besma Prabu. Ugi pejah Prabu Urubesmi, saking dasih katong, Layangseta Kumitir kalihe, anglengkara wangsitnya Dewa Ji. Wangsit yang datang dari Dewata ini dipegang teguh oleh Ratu Majapahit sehingga ia tidak mempercayai keterangan Layangseta dan Layangkumitir yang mengaku telah membunuh Prabu Urubesma. Dan akhirnya memang terbukti bahwa Layangseta dan Layangkumitir telah berbohong terhadap ratunya sehingga mereka dapat dikalahkan Damarwulan dalam perang tanding. Selain unsur agama Hindu yang tampak masih dominan, dapat ditemui pula unsur mitologi dalam ceritera ini. Unsur mitologi itu mengenai kekuasaan seorang raja yang tidak boleh diganggu gugat. Raja adalah utusan atau wakil Dewata di muka bumi ini yang harus dipatuhi dan ditaati segala perintahnya. Barang siapa yang melawan raja akan hancur binasa. Maka perbuatan Prabu Urubesma yang bernai memberontak terhadap Ratu Majapahit, yang dilandasi keinginannya untuk memperisteri Ratu Majapahit tidak direstui oleh Dewata. Prabu Urubesma yang gagah perkasa, yang tidak dapat mati selain oleh senjata sendiri, besi kuning, akhirnya binasa karena pengkhianatan kedua isterinya. Kisah Damar Wulan Versi 4 Sandhyakala ning Majapahit (selanjutnya disebut SNM) merupakan sebuah drama yang ditulis berdasarkan cerita karya sejarah (tentang Kerajaan Majapahit) oleh Sanoesi Pane. Hal itu diungkapkan dengan jelas pada bagian awal, yaitu bagian ‘Kata Bermula’ dalam naskah tersebut. Di situ diungkapkan bahwa cerita tersebut ditulis berdasarkan berita dalam Serat Kanda, Damar Wulan, Pararaton, dan Nagarakrtagama. Naskah ini pertama kali dimuat dalam majalah Timboel tahun VII, nomor 1/4, 3/4 dan 5/6, tahun 1932. Kemudian, naskah itu diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Pustaka Jaya, Yayasan Jaya Raya, tahun 1971. Pada Januari 1975, naskah itu dicetak untuk kedua kalinya, dan naskah yang dipakai ini merupakan cetakan ketiga, Agustus 1975. Cerita drama SNM ini terdiri atas pengantar cerita (Kata Bermula) dan lima bagian (babak). Kata bermula berisi tentang doa kepada Syiwabudha, agar lakon yang dipersembahkan itu berjalan dengan selamat. Selain itu, diceritakan pula asal (sumber) cerita, siapa tokoh Damar Wulan itu, dan harapan pujangga kepada generasi berikutnya untuk membuat naskah drama yang lebih baik. Drama ini berkisah tentang tokoh Damar Wulan yang bergelar Raden Gajah, seorang pahlawan di Kerajaan Majapahit, yang kemudian dihukum mati karena dituduh ingin menguasai kerajaan. Ia adalah putra dari Patih Udara dan Nawangsasi, dan keponakan dari Patih Majapahit. Di dalam diri Damar Wulan mengalir dua bakat, yaitu bakat seorang pendita dan bakat seorang kesatria. Kedua bakat itulah yang membuat tokoh utama dalam SNM ini menjadi seakan berputus asa, seakan menjadi seorang yang bimbang. Kedua bakat itu pula, akhirnya, membawa Damar Wulan pada situasi yang sulit dan membingungkan, ketika Majapahit membutuhkan tenaganya untuk menghadapi Adipati Wirabumi, Menak Jingga, yang berkhianat kepada kerajaan. Dia berada dalam dilema antara kewajiban menjadi seorang kesatria dan keinginan untuk menjadi seorang pendita. Kedua pilihan tersebut sama-sama sulit atau tidak menguntungkan untuk saat itu di Majapahit. Namun kemudian, dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran yang sulit serta berkat dorongan kekasihnya, Anjasmara, dia memutuskan untuk berangkat ke Wirabumi sebagai kesatria, guna menjatuhkan Menak Jingga. Mengapa tokoh Damar Wulan menghadapi dilema semacam itu? Pertanyaan itu sengaja diajukan untuk menghindari salah interpretasi terhadap pribadi tokoh utama ini. Jawaban dari pertanyaan itu akan sangat membantu pemahaman terhadap tokoh Damar Wulan, sebagai bagian yang penting dalam pemaknaan keseluruhan cerita SNM. Sebagai seorang keturunan kesatria, sejak kecil Damar Wulan telah dipersiapkan untuk menjadi seorang kesatria. Ke-kesatria-an ini telah dibuktikannya dengan ikut membantu Adipati Tuban berperang melawan Menak Jingga, di Wirabumi. Dalam perang itu, Damar Wulan memperlihatkan kehandalannya sebagai prajurit perang. Oleh karena itu pula, dia direkomendasi oleh Adipati Tuban untuk mengantikannya sebagai pemimpin pasukan perang ke Wirabumi. Hanya saja, setelah kembali ke Paluh Amba, setelah ikut berperang membantu Adipati Amba, dia menjadi bimbang. Dia menyadari, bahwa “ketika perang masih berlaku hanya kuingat maju ke muka, memusnahkan segala yang menghambat daku” (hal. 24). Akan tetapi, setelah itu, dia senantiasa teringat orang yang telah dibunuhnya. Dia tidak sampai hati melihat anak dan ibunya menunggu bapak dan suaminya di pintu gerbang. Tangisan anak dan ibu tadi sangat memilukan hatinya dan membuat jiwanya menderita, dan perasaan berdosa selalu membebaninya. Sementara itu, Damar Wulan juga melihat dan berpikir bahwa Majapahit tidak perlu ditolong lagi. Sebenarnya, tanpa serangan Menak Jingga pun, Majapahit telah runtuh. Hal itu disebabkan oleh ‘bobrok’nya moral para pendita dan para bangsawan. Agama tidak lagi diperlukan untuk meninggikan budi, tetapi diperlukan untuk memperkukuh kekuasaan. Pendita hanya berguna untuk menambah kebodohan, karena agama dijadikan takhyul dan arca disembah seperti dewa. Para kesatria sudah berlaku sebagai perampok, sementara rakyat semakin kurus dan sengsara. Kedua kondisi di atas mendorong Damar Wulan untuk berpikir memilih menjadi seorang pendita. Oleh karena itu pula, dia cukup lama berdiam diri dan tidak menghiraukan Majapahit yang ‘nyaris’ dikuasai oleh Menak Jingga. Barangkali, hal itu dilakukan oleh Damar Wulan adalah untuk menebus perasaan berdosanya tadi. Dengan demikian, dia juga berharap akan dapat menyadarkan para pendita dan para bangsawan dan mengembalikan agama kepada fungsi dan posisinya yang semula. Akan tetapi, jauh dilubuk hatinya, Damar Wulan merasakan panggilan yang sangat kuat untuk menjadi seorang kesatria. Di samping itu, dia sadar betul bahwa Majapahit berada dalam kondisi yang sangat menjemaskan. Tentu saja, keinginannya itu menjadi tidak tepat untuk kondisi negara yang seperti itu. Dalam keadaan negara yang kacau, dia tidak akan dapat melakukan perbaikan di bidang agama dan moral tadi. Itulah dilema yang dihadapi oleh Damar Wulan. Namun, akhirnya, dia memutuskan untuk pergi berperang melawan Menak Jingga ke Wirabumi. Pilihan akhir dari Damar Wulan membuat keinginannya menjadi kenyataan. Dia menang melawan Menak Jingga dan diangkat menjadi Ratu Angabaya. Dia berhasil mengembalikan moral dan agama pada posisinya semula di kalangan rakyat, tetapi dia dimusuhi oleh para pendita dan para bangsawan, yang takut kekuasaannya akan menjadi hilang. Akhirnya, Damar Wulan dihukum mati, karena dituduh akan merebut kekuasaan Majapahit oleh kedua kaum tadi. Meskipun, Damar Wulan mati, namun dia telah berhasil menyadarkan rakyatnya. Hal itu dibuktikan oleh kemarahan rakyat mendengar Damar Wulan dihukum mati. Mereka menyerang Majapahit dan untuk kemudian Majapahit runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Islam. Berbagai Kearifan Lokal Legenda Damar Wulan Sebagaimana telah penulis jelaskan sebelumnya, pada setiap legenda yang tertutur itu niscaya sarat akan berbagai nilai kehidupan yang menyejarah. Demikian pula dengan legenda yang sedang penulis ketengahkan saat ini, dalam makalah ini. Legenda Damar Wulan tak bedanya dengan legenda-legenda lain hasil karya pujangga-pujangga negeri Indonesia, sarat akan berbagai kearifan lokal, dan berikut kearifan-kearifan lokal yang mampu penulis sarikan dari legenda tersebut dengan menyimpulkan berbagai versi dari legenda Damar Wulan itu sendiri. a. Berdasarkan salah satu versi dari legenda Damar Wulan, diceritakan bahwa Damar Wulan merupakan tokoh protagonis yang awalnya diperbudak bahkan dihinakan oleh pamannya sendiri, namun justru kemudian dia tampil menjadi kesatria bagi Kerajaan Majapahit yang dirundung kebangkrutan kala itu. Pada inti dari cerita ini, maka kita semua dapat menyarikan nilai kehidupan yang layak untuk diteladani. Walaulah dulunya Damar Wulan diperbudak dan dihinakan oleh pamannya sendiri, namun ia tidak beroleh dendam, bahkan saat kerajaan yang dipimpin pamannya itu sedang dihantarkan pada lembah kebangkrutan, Damar Wulan tak segan akhirnya membantu mengembalikan kejayaan kerajaan tersebut. Simpulannya, Damar Wulan merupakan tokoh protagonis yang lembut hatinya, mudah memaafkan, dan kesatria. b. Sementara, dari perspektif lainnya, legenda Damar Wulan ini dikatakan sarat akan nilai-nilai religius agama Hindu. Pada poin ini, penulis berkesimpulan, bahwa memang sudah semestinya dan seharusnya kita hidup harus dinaungi oleh nilai-nilai religius. Sehingga hidup kita bisa lebih terarah, seperti kisah Ratu Majapahit yang melakukan perintah dewata melalui mimpinya tentang pemenangan Majapahit oleh Damar Wulan. c. Pada versi yang lainnya lagi, Damar Wulan diceritakan sebagai seorang tokoh yang memiliki dua bakat, yakni sebagai pandita sekaligus sebagai kesatria. Dan dua buah bakat yang dimiikinya itu rupanya justru membawa dilemma bagi tokoh. Namun dari pada mendahulukan egonya untuk menjadi pandita, padahal negerinya sedang sangat membutuhkan kestaria, maka akhirnya ia merelakan dirinya berjuang melawan musuh kerajaannya. Dari perspektif ini, dapat kita teladani bahwa egoisme, bahkan untuk hal yang menurut pandangan subjektif kita baik, namun justru membinasakan banyak manusia, harusnya menjadi pertimbangan bagi kita untuk tidak dilakukan (tapi justru lebih merelakan diri berkorban bagi banyak manusia) d. Damar Wulan, dalam salah satu versi cerita, juga diceritakan sebagai seorang tokoh yang meninggikan budi dengan mengagungkan agama. Jadi, kearifan-kearifan lokal yang mampu kita teladani dari kisah Damar Wulan ini diantaranya, seperti kelembutan hati (bukan seorang pendendam, mudah memaafkan), tinggi akal dan budinya, sarat nilai-nilai religius, arif dan bijaksana, berani, serta kesatria Tapi semua Cerita tersebut hanyalah karangan dari seseorang yang menyelipkan pesan kebaikan didalamnya,dan merupakan peninggalan kebudayaan luhur bangsa kita,kitalah yang wajib mencerna sehingga dapat dijadikan contoh bagi anak cucu kita kelak.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih kepada teman semua yang mau memberi komentar atau sekedar berkunjung di blog sederhana ini,komentar anda sangat berguna bagi kami